Minggu, 01 April 2012

FanFic buatan orang lain XD

DISCLAIMER: I DO NOT OWN ANGEL BEATS! IT BELONGS TO JUN MAEDA
Hope you guys enjoy this one! ^o^V

"Naiteru kimi koso kodoku na kimi koso.. Tadashii yo ningenrashii yo.." It's you who are crying, it's you who are lonely. You're right. You're just being human
Tachibana Kanade berjalan di trotoar kota Tokyo yang ramai sambil bernyanyi kecil. 'My Song'. Lagu favoritnya yang dinyanyikan oleh Girls Dead Monster. Band yang berisi gadis gadis cantik dengan lagu yang tidak kalah cantik.
"Konna ni mo yogorete minikui sekai de deaeta kiseki ni arigatou.." Thank you to the miracle that we were able to meet in a dirty and ugly world even like this
-oOo-
Hari Minggu yang indah di suatu musim panas. Otonashi Yuzuru berjalan menuju toko buku ketika ia melihat seorang gadis cantik sedang menikmati es krim coklat yang ada di tangannya. Seketika itu ia merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Déjà vu. Saat ia hendak mengejar gadis itu, gadis itu segera menghilang dari hadapannya. Menghilang diantara kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Ia tidak mau kehilangan jejak gadis itu. Ia harus menemukannya! Dengan tangkas ia menyelip kerumunan orang dan akhirnya ia menemukan gadis itu masih berjalan santai sambil menikmati es krim yang ada di tangannya.
"Kau.." Ucap Otonashi saat ia menepuk bahu gadis itu.
"Hmm? Apakah kita saling kenal?" Tanya gadis itu dengan wajah yang polos. Otonashi merasa pipinya panas saat melihat wajah gadis itu dari dekat. 'Whoa.. Cantik sekali gadis ini'. Otonashi tidak menyangka gadis itu sangat cantik saat dilihat lebih dekat.
"Halooooooo.. Ada orang disana?" Tanya gadis itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Otonashi. Saat itulah lamunan Otonashi menghilang.
"Ah ah gomen. Otonashi Yuzuru." Ujarnya panik sambil mengulurkan tangannya.
"Hihi kau kenapa? Aku Tachibana. Tachibana Kanade. Panggil saja aku Kanade." Kanade tersenyum manis saat menerima tangan Otonashi. Membuat Otonashi semakin tersipu.
"Mau ngobrol, Tachibana-san?" Tunjuk Otonashi ke sebuah café di seberang jalan.
'Hwaaaaa.. Aku tidak menyangka bisa berkenalan dengan laki-laki seperti ini di tengah jalan.' Teriak Kanade dalam hati. Lelaki itu mendadak menegurnya saat ia sedang asik dengan es krim di tangannya. Tetapi ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi di mana ya?
"Ermm.. Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat, Tachibana-san." Otonashi memulai pembicaraan. Wajahnya terlihat canggung. Terlihat sekali kalau ia bukan tipe yang mudah menegur gadis di tengah jalan. Lalu kenapa ia menegur Kanade?
"Panggil saja aku Kanade, Otonashi-san. Entah kenapa aku merasa sama sepertimu."
"Ah ah kalau begitu panggil saja aku Yuzuru, Kanade-chan! Hmm aneh.."
"…"
"…"
"…"
"Emmm.. Kanade-chan?"
"Tidak jadi. Gomen ne.."
"..."
"..."
"..."
Hening. Keduanya merasa canggung. Belum lagi karena dua-duanya merasa pernah saling kenal. Kejadian yang aneh untuk dua orang asing yang baru saling kenal. Kanade dengan santai melihat keluar café yang ramai dengan orang lalu lalang. Otonashi menundukkan kepalanya dalam-dalam, memikirkan apa yang telah dilakukannya hingga terjadi seperti ini.
'Bodoh kau Yuzuru! Pikirkan sesuatu untuk meramaikan suasana!' Umpat Otonashi dalam hati. Ia yang telah memulai kejadian ini dan ia jugalah yang harus menuntaskan apa yang telah dilakukannya. Itulah yang dilakukan lelaki sejati!
"Ini dia pesanan anda. Selamat menikmati!" Seorang waitress muncul dan mengagetkan mereka berdua. Tertulis "YURI" di tag-name yang menempel di celemeknya. Setelah mengantar cake dan teh yang mereka pesan, sang waitress lenyap dari pandangan. Otonashi telah membulatkan tekadnya untuk berbicara dan bertanya lebih banyak.
"Ermm.. Kanade-chan sekolah dimana?"
"Sekolah? Di SMA Y, tidak jauh dari sini. Kalau Yuzuru-kun?"
"Ah! Aku baru saja lulus dari SMA S dan sekarang aku bersiap untuk menghadapi ujian masuk Universitas Tokyo."
"Wah hebat. Ganbatte ne, Yuzuru-kun! Semoga lulus di Universitas Tokyo." Kanade tersenyum manis. Membuat Otonashi lagi lagi tersipu (dari tadi si author bikin Otonashi malu-malu mulu. Kapan jadiannya? SABAR DONG AH! PLAKKK ditabok readers xP)
"Arigatou Kanade-chan, kamu baik sekali" Ujar Otonashi sambil tersipu malu (lagi).
Dan akhirnya.. Jeng jeng jeng jeng~ Sebuah kalimat pamungkas yang akhirnya dilontarkan Otonashi ketika pertemuan ini akan berakhir. Disaat kue yang mereka makan sudah hampir habis, disaat teh yang mereka minum sudah mulai dingin, dan disaat.. Disaat langit sudah mulai berubah warna menjadi semakin oranye, menandakan malam sedang bersiap untuk memulai shift kerjanya.
"Kanade-chan, boleh minta alamat e-mail mu?" Otonashi sudah siap dengan hape di tangannya.
"Umm.. Boleh: tachide_kana*disensor*. Kabari aku kalau Yuzuru-kun lulus ujian masuk Universitas Tokyo yaa!" Dengan lihai tangan Otonashi memencet keypad hape-nya. Tidak lama hape Kanade berbunyi, e-mail dari Otonashi.
"Itu e-mail ku. Baiklah akan kuberitahu jika aku lulus!" Ujar Otonashi dengan semangat 45. Kanade tertawa kecil melihat semangat Otonashi yang menggebu-gebu.
-oOo-
Hari sudah semakin gelap. Tidak terasa pertemuan pertama mereka harus berakhir. Otonashi dan Kanade merasa belum puas berbicara dan mengenal satu sama lain. Tetapi dengan e-mail, mereka bisa berhubungan dan dapat membuat janji bertemu di lain hari.
"Sudah waktunya ya?" Otonashi masih merasa sayang untuk melepas hari ini begitu saja.
'Melepas Kanade untuk pulang rasanya seperti melepas seseorang yang akan pergi ke surga' batin Otonashi. Lagi lagi ia merasa pernah mengalami kejadian seperti ini dan merasa pernah melihat wajah Kanade di suatu tempat. Tetapi ia tetap tidak bisa menemukan di mana ia pernah bertemu gadis semanis ini.
"Iya sudah waktunya.. Aku duluan, Yuzuru-kun!" Kanade melepas topi yang ia pakai dan melambaikan topinya kearah Otonashi saat ia berjalan.
"Ah hati-hati Kanade.. Chan.. Ah iya sudah berbelok." Otonashi membalikkan badannya dan berjalan menuju toko buku, tujuan awal ia pergi ke daerah ini..
*Pik pik pik* Bunyi keypad hape Otonashi yang menunjukkan ia sedang mengetik sesuatu. Ya, sebuah e-mail. E-mail untuk seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tachibana Kanade.
'Kanade-chan.. Aku benar benar pernah bertemu denganmu di suatu tempat. Tetapi dimana?' Tanyanya dalam hati.
'Otonashi-kun.. Aku tahu pernah mengenalmu sebelum kita bertemu. Tetapi kapan?' Masih terbayang wajah Otonashi yang tersipu malu di benak Kanade. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi kereta sambil berusaha mengingat sesuatu.. Ia tetap tidak ingat. Tetap tidak ingat dimana ia pernah bertemu dengan Otonashi sebelumnya.
'Ah mungkin hanya perasaanku saja ya..'
"Mezamete wa kurikaesu, nemuri asa wa" Ringtone hape Kanade yang menandakan ada sebuah e-mail yang masuk. Dari Otonashi. Kanade jadi senang tidak karuan hingga ia hampir melewati stasiun tempat ia harus turun. Sambil berjalan pulang ia membaca e-mail dari Otonashi.
"Dear Kanade-chan.. Hari ini menyenangkan sekali. Aku sedang mencari buku referensi untuk tes ujian masuk Universitas Tokyo dua minggu lagi. Bertemu denganmu hari ini membuatku berpikir.. Apakah ini yang namanya takdir? Senang sekali rasanya dapat mengenalmu dan aku tidak menyesal telah mengejarmu tadi siang! Ahaha hanya bercanda. Semoga hari-harimu menyenangkan, Kanade-chan! Orang yang baru kau kenal, Otonashi Yuzuru." Selesai membaca, Kanade lompat-lompat seperti orang gila (?) Dan ya, Kanade jatuh cinta pada Otonashi. Sama seperti Otonashi yang jatuh cinta pada Kanade.
"Otonashi Yuzuru.. Entah bagaimana jadinya hari ini jika aku tidak bertemu denganmu.." Ucap Kanade sambil komat-kamit kegirangan. Saat Kanade sampai di rumah dan saat ia membuka pintu, terlihat sesosok orang yang mengejutkannya.
"K-k-kau.."
-TO BE CONTINUED-

Kau: Yang Begitu Ingin Kuhapus ~lihat saja, aku pasti bisa~ Angel Beats! © Jun Maeda . . YuzuKana fanfiction by Yoriko


Hari ini aku membuka garis waktuku di sebuah media sosial.
Sudah tidak ada lagi beberapa kalimat yang dulu kukatakan: 'itu buatmu :)' Untukmu.
Aku telah menghapusnya, ya... memang menghapusnya. Lantas aku pun telah menghapus beberapa kalimat yang sempat kutaruh dalam kubikal kesukaanku—dimana sempat ada beberapa statusmu yang sempat kujadikan kesukaan.
Ya... memang menghapusnya.
.
.
Apa lagi? Apa lagi yang dapat kuhapus tentang dirimu dalam hidupku, Yuzuru?
Adakah yang belum kuhapus? Aku telah menghapus semuanya. Bahkan, aku sudah menghapusmu dari deretan nama di ponselku. Sudah kuhapus.
Kau tahu? Kau mengganggu. Sangat.
Tahukah? Yang kumaksud mengganggu itu apa? Aku 'sakit'. Sakit saat melihatmu. Sakit karena kau tetap mempedulikanku meski kita tidak lagi bersama. Sakit saat mengetahui bahwa kau akhirnya bersama gadis berambut nila itu.
Kau tahu? Aku membenci hal itu—sebab aku jadi sulit melepaskan diri dari perangkap merah jambumu!
Ketahuilah bahwa aku merasakan nyeri saat melupakanmu, meninggalkanmu, mengacuhkanmu. Bahkan, menghapusmu. Tapi, kau menjadi hantu di pikiranku. Menjelma menjadi bayangan semu dan muncul tiba-tiba disaat tertentu. Maumu apa, Yuzuru?
.
.
Saat dini hari menjelang pagi, gelisah hatiku akan merindu dirimu. Aku melangkah keluar, menemukan foto-foto kita itu—kuubah, hingga dalam sekejap menguap dan menghilang. Menjadi abu mungkin?
Aku ingin menghapus kenangan itu.
Eh?
Kau meragukanku menghapus semua itu? Aku mampu.
.
.
Kau, terlalu meruntuhkan hati untuk sekedar kuingat. Kau, terlalu istimewa untuk dapat kukatakan 'bukan siapa-siapa'.
Kita, adalah kabaret liar yang bahkan tak sanggup lagi kita mainkan dan kenangkan. Pertunjukkan telah usai.
Aku akan mampu menghapusmu.
Sekali lagi kukatakan. Aku mampu menghapusmu.
Tak percaya?
.
.
.
-Fin-

Chap 3 : Miss you,Love you

Dia berlari,berlari sekencang-kencangnya,entah apa yang dikejarnya ia tak dalam hati ada yang mengatakan bahwa ia harus lari secepat mungkin agar tidak tertangkap.
Sambil berlari terengah-engah,ia menoleh ke belakang,tetapi apa yang didapat? Kegelapan yang terus menerus mengejarnya.
Apa? apa itu?apa ia akan tenggelam dalam kegelapan?
Sesosok makhluk berjubah hitam dan membawa arit besar datang dengan berjalan yang dikejar itu sudah tak tahan lagi untuk berlari dan akhirnya ia oleh sesosok makhluk hitam itu.
"Tidak!" teriak Yui. Yui menoleh ke kanan dan ke kiri,masih dalam posisi tidurnya, "Mi…mimpi?"
Sangat menakutkan,tak disangka Yui mendapatkan mimpi buruk itu.
"Yui,ada apa?" tanya ibunya yang setengah panik setelah mendengar jeritan Yui.
"Ibu…maaf,aku habis mimpi buruk." Yui mengatakannya dengan wajah ketakutan.
Ibunya tentu menghampirinya melihat anak semata wayangnya itu ketakutan, lalu ibunya memeluknya, "tenanglah,Yui,tenang,itu hanya mimpi."
Di dalam pelukannya,Yui merasakan kehangatan,rasanya nyaman,tak ada lagi rasa ketakutan dalam dirinya.
Ibu melepas pelukannya, "Lalu,apa yang kau mimpikan,Yui?"
"itu…aku tak seperti biasanya,sepertinya aku takut akan kematian…"
Ibunya hanya terdiam saja,lalu menjawab, "Tenanglah,Yui,selama kau masih disini,ibu akan tetap ada Hinata-kun yang sekarang jadi temanmu."
Hinata-senpai…. Sepertinya Yui mulai memikirkannya.
"Kau mau sarapan?ibu buatkan dulu ya."
Yui tak menjawab,tapi seakan ibunya mengerti jawaban Yui,diapun keluar dari kamar Yui.
"Senpai….."
Bayangan Yui akan mimpinya,sosok hitam itu adalah dewa kematian yang sedang kematiannya.
"Kenapa…padahal selama ini aku tak pernah memikirkan…kematianku…"
Semenjak Yui mengidap penyakit itu,Yui tak pernah memikirkan akan ia pikirkan hanya berharap ibunya bisa rela ia meninggal,tak akan ada yang menangisinya.
Tapi kenapa?
Ia merasa ingin hidup,bersama dengan seseorang.
"Hinata….senpai….." katanya lirih.
Kenapa?kenapa Yui selalu terbayang akan wajah Hinata?
Di SMA Gaeshi,Hinata mengikuti pelajaran seperti ada saatnya ia melamun,meski pandangannya sekilas memerhatikan mengkhayal,kadang ia tersenyum sendiri,ia membayangkan wajah Yui yang bahagia saat Hinata mengantarkannya ke sebuah tempat yang penuh dengan pohon maple.
Apa ia akan mampir ke rumah Yui hari ini?
Sepertinya tidak,karena hari ini Hinata harus mengikuti klub baseball sepulang sekolah.
Yui melirik jam dinding yang ada di itu menunjukkan jarum pendek di angka berpikir apa Hinata sudah pulang sekarang?apa ia tidak mampir ke rumah Yui?
Terlihat awan gelap menyelimuti gemuruh petir pun berharap Hinata tidak pulang dengan basah kuyup hari ini.
"Gawat,ketua,kita tidak bisa melanjutkan terlalu deras."seru salah seorang anggota klub basket.
"Sepertinya begitu,kalau begitu hari ini kita latihan sampai disini saja."perintah ketua pada semua anggotanya.
Semua orang yang semula ada di lapangan,kini memasuki ruang klub untuk mengeringkan terkecuali Hinata yang juga basah kuyup akibat hujan.
Hinata melepas seragam baseballnya dan segera memakai seragam sekolah.
"Lho,Hinata,kamu mau pulang dulu?di luar kan hujan."tanya salah seorang temannya.
"Iya,aku masih ada urusan setelah bawa payung kok."jawab Hinata sambil memakai sepatu.
"Oh,begitu,baiklah,hati-hati di jalan ya."
Begitu Hinata berpisah pada teman-temannya,Hinata mengambil payung yang ada di loker ia menuruni tangga dan keluar sekolah memakai hari ini dia ingin mengunjungi Yui,karena hari ini ia pulang lebih kenapa Hinata sangat merindukan suara dan wajah Yui saat ini.
Yui melihat tetesan air hujan yang membasahi pekarangan rumahnya dari balik sepi,tak berbicara dengan Hinata selama beberapa jam saja membuat Yui merindukannya.
Apa yang Yui pikirkan menjadi menekan bel rumah Hinata pun muncul dari balik pintu kamar Yui.
"Yui…"sapanya.
"Senpai,kukira hari ini kau tak datang."
"Yah…sebenarnya begitu,tapi aku tidak tahu apa yang mengelabuiku,sehingga aku ingin kemari."
"Karena senpai merindukanku?"sahut Yui dibarengi dengan nada sedikit bercanda.
"Yaah,mungkin."
Yui tak menyangka jawaban Hinata seperti itu membuat pipi Yui sedikit memerah.
"Maaf ya,hari ini aku tidak membawa apa-apa."
Yui menggeleng, "Tidak apa-apa kok,senpai kemari saja aku sudah cukup senang."
"Begitukah?"
"hmm…"angguknya.
"Kalau begitu,kita lakukan apa hari ini?"Hinata duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Yui.
Belum sempat Yui berkata,ponsel Hinata yang sesaat itu,sudah pasti itu hanya membaca sekilas,lalu itu ia menutup ponselnya.
"Siapa?"tanya Yui penasaran.
"Oh,hanya -tiba ia datang ke rumahku."
"Kakak senpai berkunjung ke rumah senpai?dia tinggal di mana?"
"Hakata, rencananya ia akan tinggal di Shinjuku pusat."
"Kenapa?"
"Karena minggu depan dia akan yang akan dinikahinya itu tinggal di Shinjuku,makanya kakak akan pindah sekaligus mencari kerja yang baru di sana."
"Me….nikah…."
Hinata sadar sudah bercerita panjang lebar tentang kakaknya. "Ah,lebih baik kita ganti topik saja ya."
"Kakak senpai…..pasti akan bahagia…"
"Hah?"Hinata sedikit kaget. "Y…yah,begitulah…"jawabnya sedikit ragu.
"….itu…."Yui bergumam pelan.
"Ada apa,Yui?"
"impian….."gumamnya lirih.
"Apa?"Hinata mendengarnya,tapi ia ingin meyakinkan pendengarannya sekali lagi.
"Menikah…itulah impian setiap wanita di dunia ini."
"…"Hinata sedikit heran.
"Yaah,menikah adalah impian terakhir tiap dengan pasangan,mengikat janji sehidup semati,selamanya mereka selalu bersama…itulah,harapan yang kuinginkan."
"Yui….."
Yui tersadar dan mengalihkan pembicaraan. "apa sih yang kubicarakan…lupakan saja apa yang kukatakan barusan,senpai."
"Tidak apa-apa."
"Hah?"kini Yui yang keheranan.
"Tidak apa-apa jika kelak kau menikah denganku."
Mata Yui terbelalak kaget "S…senpai,kau bicara apa sih…kau pasti bercanda…"
"Aku serius…"Hinata menggenggam tangan Yui, "Aku ingin menjagamu,melindungimu,aku ingin bersamamu, adalah hal yang terbesit setelah aku menemuimu,setelah aku menghabiskan waktu bersamamu."
"K…kau bicara apa,senpai…mana mungkin kau bisa menikahiku,umurku pendek,bahkan aku tak bisa berjalan,bergerak maupun mempunyai anak."
"aku akan tetap menyukaimu apapun yang terjadi,Yui."
"Tapi,penyakitku…."
"Aku tak peduli!"kata Hinata sambil mengeraskan suaranya.
"Aku tak peduli semua tak peduli pada penyakitmu,aku tak peduli kau tak bisa berjalan,bergerak atau bahkan tak mempunyai akan tetap menikahimu."
"…"Yui menatap mata Hinata.
"Aku ingin berada di sisimu,selamanya,Yui."
Air matanya Yui menetes,membasahi pipinya. Ia menangis terisak-isak mendengar pernyataan Hinata disangka dia begitu disangka,harapannya akan muncul.
Hinata memegangi pipi Yui dan menghapus air matanya.
"Tak kusangka….tak kusangka ada seseorang yang berkata seperti itu…senpai…kau bilang akan menikahiku….bahkan kau pun belum lulus dan belum cukup umur." Yui mulai tertawa pelan.
"Yaaah,mungkin begitu,tapi setelah aku lulus,aku akan menikahimu."
"Bagaimana jika aku meninggal duluan?"
"Makanya,kau harus harus berjuang melawan penyakitmu demi aku."
Yui tersenyum,ia bahagia bisa dicintai oleh orang baik seperti senang bisa mencintai seseorang selain keluarganya sendiri.
Setelah menghapus air mata Yui,tiba-tiba Hinata mencium dahi Yui.
Sepertinya hari-hari Yui yang diisi dengan keputus asaan dan pengandaian,akhirnya bahagia walau ia terkena penyakit ia akan berjuang melawan penyakitnya dan menunggu Hinata walau sampai seratus tahun.
-To Be Continued-