Minggu, 01 April 2012

FanFic buatan orang lain XD

DISCLAIMER: I DO NOT OWN ANGEL BEATS! IT BELONGS TO JUN MAEDA
Hope you guys enjoy this one! ^o^V

"Naiteru kimi koso kodoku na kimi koso.. Tadashii yo ningenrashii yo.." It's you who are crying, it's you who are lonely. You're right. You're just being human
Tachibana Kanade berjalan di trotoar kota Tokyo yang ramai sambil bernyanyi kecil. 'My Song'. Lagu favoritnya yang dinyanyikan oleh Girls Dead Monster. Band yang berisi gadis gadis cantik dengan lagu yang tidak kalah cantik.
"Konna ni mo yogorete minikui sekai de deaeta kiseki ni arigatou.." Thank you to the miracle that we were able to meet in a dirty and ugly world even like this
-oOo-
Hari Minggu yang indah di suatu musim panas. Otonashi Yuzuru berjalan menuju toko buku ketika ia melihat seorang gadis cantik sedang menikmati es krim coklat yang ada di tangannya. Seketika itu ia merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Déjà vu. Saat ia hendak mengejar gadis itu, gadis itu segera menghilang dari hadapannya. Menghilang diantara kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Ia tidak mau kehilangan jejak gadis itu. Ia harus menemukannya! Dengan tangkas ia menyelip kerumunan orang dan akhirnya ia menemukan gadis itu masih berjalan santai sambil menikmati es krim yang ada di tangannya.
"Kau.." Ucap Otonashi saat ia menepuk bahu gadis itu.
"Hmm? Apakah kita saling kenal?" Tanya gadis itu dengan wajah yang polos. Otonashi merasa pipinya panas saat melihat wajah gadis itu dari dekat. 'Whoa.. Cantik sekali gadis ini'. Otonashi tidak menyangka gadis itu sangat cantik saat dilihat lebih dekat.
"Halooooooo.. Ada orang disana?" Tanya gadis itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Otonashi. Saat itulah lamunan Otonashi menghilang.
"Ah ah gomen. Otonashi Yuzuru." Ujarnya panik sambil mengulurkan tangannya.
"Hihi kau kenapa? Aku Tachibana. Tachibana Kanade. Panggil saja aku Kanade." Kanade tersenyum manis saat menerima tangan Otonashi. Membuat Otonashi semakin tersipu.
"Mau ngobrol, Tachibana-san?" Tunjuk Otonashi ke sebuah café di seberang jalan.
'Hwaaaaa.. Aku tidak menyangka bisa berkenalan dengan laki-laki seperti ini di tengah jalan.' Teriak Kanade dalam hati. Lelaki itu mendadak menegurnya saat ia sedang asik dengan es krim di tangannya. Tetapi ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi di mana ya?
"Ermm.. Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat, Tachibana-san." Otonashi memulai pembicaraan. Wajahnya terlihat canggung. Terlihat sekali kalau ia bukan tipe yang mudah menegur gadis di tengah jalan. Lalu kenapa ia menegur Kanade?
"Panggil saja aku Kanade, Otonashi-san. Entah kenapa aku merasa sama sepertimu."
"Ah ah kalau begitu panggil saja aku Yuzuru, Kanade-chan! Hmm aneh.."
"…"
"…"
"…"
"Emmm.. Kanade-chan?"
"Tidak jadi. Gomen ne.."
"..."
"..."
"..."
Hening. Keduanya merasa canggung. Belum lagi karena dua-duanya merasa pernah saling kenal. Kejadian yang aneh untuk dua orang asing yang baru saling kenal. Kanade dengan santai melihat keluar café yang ramai dengan orang lalu lalang. Otonashi menundukkan kepalanya dalam-dalam, memikirkan apa yang telah dilakukannya hingga terjadi seperti ini.
'Bodoh kau Yuzuru! Pikirkan sesuatu untuk meramaikan suasana!' Umpat Otonashi dalam hati. Ia yang telah memulai kejadian ini dan ia jugalah yang harus menuntaskan apa yang telah dilakukannya. Itulah yang dilakukan lelaki sejati!
"Ini dia pesanan anda. Selamat menikmati!" Seorang waitress muncul dan mengagetkan mereka berdua. Tertulis "YURI" di tag-name yang menempel di celemeknya. Setelah mengantar cake dan teh yang mereka pesan, sang waitress lenyap dari pandangan. Otonashi telah membulatkan tekadnya untuk berbicara dan bertanya lebih banyak.
"Ermm.. Kanade-chan sekolah dimana?"
"Sekolah? Di SMA Y, tidak jauh dari sini. Kalau Yuzuru-kun?"
"Ah! Aku baru saja lulus dari SMA S dan sekarang aku bersiap untuk menghadapi ujian masuk Universitas Tokyo."
"Wah hebat. Ganbatte ne, Yuzuru-kun! Semoga lulus di Universitas Tokyo." Kanade tersenyum manis. Membuat Otonashi lagi lagi tersipu (dari tadi si author bikin Otonashi malu-malu mulu. Kapan jadiannya? SABAR DONG AH! PLAKKK ditabok readers xP)
"Arigatou Kanade-chan, kamu baik sekali" Ujar Otonashi sambil tersipu malu (lagi).
Dan akhirnya.. Jeng jeng jeng jeng~ Sebuah kalimat pamungkas yang akhirnya dilontarkan Otonashi ketika pertemuan ini akan berakhir. Disaat kue yang mereka makan sudah hampir habis, disaat teh yang mereka minum sudah mulai dingin, dan disaat.. Disaat langit sudah mulai berubah warna menjadi semakin oranye, menandakan malam sedang bersiap untuk memulai shift kerjanya.
"Kanade-chan, boleh minta alamat e-mail mu?" Otonashi sudah siap dengan hape di tangannya.
"Umm.. Boleh: tachide_kana*disensor*. Kabari aku kalau Yuzuru-kun lulus ujian masuk Universitas Tokyo yaa!" Dengan lihai tangan Otonashi memencet keypad hape-nya. Tidak lama hape Kanade berbunyi, e-mail dari Otonashi.
"Itu e-mail ku. Baiklah akan kuberitahu jika aku lulus!" Ujar Otonashi dengan semangat 45. Kanade tertawa kecil melihat semangat Otonashi yang menggebu-gebu.
-oOo-
Hari sudah semakin gelap. Tidak terasa pertemuan pertama mereka harus berakhir. Otonashi dan Kanade merasa belum puas berbicara dan mengenal satu sama lain. Tetapi dengan e-mail, mereka bisa berhubungan dan dapat membuat janji bertemu di lain hari.
"Sudah waktunya ya?" Otonashi masih merasa sayang untuk melepas hari ini begitu saja.
'Melepas Kanade untuk pulang rasanya seperti melepas seseorang yang akan pergi ke surga' batin Otonashi. Lagi lagi ia merasa pernah mengalami kejadian seperti ini dan merasa pernah melihat wajah Kanade di suatu tempat. Tetapi ia tetap tidak bisa menemukan di mana ia pernah bertemu gadis semanis ini.
"Iya sudah waktunya.. Aku duluan, Yuzuru-kun!" Kanade melepas topi yang ia pakai dan melambaikan topinya kearah Otonashi saat ia berjalan.
"Ah hati-hati Kanade.. Chan.. Ah iya sudah berbelok." Otonashi membalikkan badannya dan berjalan menuju toko buku, tujuan awal ia pergi ke daerah ini..
*Pik pik pik* Bunyi keypad hape Otonashi yang menunjukkan ia sedang mengetik sesuatu. Ya, sebuah e-mail. E-mail untuk seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tachibana Kanade.
'Kanade-chan.. Aku benar benar pernah bertemu denganmu di suatu tempat. Tetapi dimana?' Tanyanya dalam hati.
'Otonashi-kun.. Aku tahu pernah mengenalmu sebelum kita bertemu. Tetapi kapan?' Masih terbayang wajah Otonashi yang tersipu malu di benak Kanade. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi kereta sambil berusaha mengingat sesuatu.. Ia tetap tidak ingat. Tetap tidak ingat dimana ia pernah bertemu dengan Otonashi sebelumnya.
'Ah mungkin hanya perasaanku saja ya..'
"Mezamete wa kurikaesu, nemuri asa wa" Ringtone hape Kanade yang menandakan ada sebuah e-mail yang masuk. Dari Otonashi. Kanade jadi senang tidak karuan hingga ia hampir melewati stasiun tempat ia harus turun. Sambil berjalan pulang ia membaca e-mail dari Otonashi.
"Dear Kanade-chan.. Hari ini menyenangkan sekali. Aku sedang mencari buku referensi untuk tes ujian masuk Universitas Tokyo dua minggu lagi. Bertemu denganmu hari ini membuatku berpikir.. Apakah ini yang namanya takdir? Senang sekali rasanya dapat mengenalmu dan aku tidak menyesal telah mengejarmu tadi siang! Ahaha hanya bercanda. Semoga hari-harimu menyenangkan, Kanade-chan! Orang yang baru kau kenal, Otonashi Yuzuru." Selesai membaca, Kanade lompat-lompat seperti orang gila (?) Dan ya, Kanade jatuh cinta pada Otonashi. Sama seperti Otonashi yang jatuh cinta pada Kanade.
"Otonashi Yuzuru.. Entah bagaimana jadinya hari ini jika aku tidak bertemu denganmu.." Ucap Kanade sambil komat-kamit kegirangan. Saat Kanade sampai di rumah dan saat ia membuka pintu, terlihat sesosok orang yang mengejutkannya.
"K-k-kau.."
-TO BE CONTINUED-

Kau: Yang Begitu Ingin Kuhapus ~lihat saja, aku pasti bisa~ Angel Beats! © Jun Maeda . . YuzuKana fanfiction by Yoriko


Hari ini aku membuka garis waktuku di sebuah media sosial.
Sudah tidak ada lagi beberapa kalimat yang dulu kukatakan: 'itu buatmu :)' Untukmu.
Aku telah menghapusnya, ya... memang menghapusnya. Lantas aku pun telah menghapus beberapa kalimat yang sempat kutaruh dalam kubikal kesukaanku—dimana sempat ada beberapa statusmu yang sempat kujadikan kesukaan.
Ya... memang menghapusnya.
.
.
Apa lagi? Apa lagi yang dapat kuhapus tentang dirimu dalam hidupku, Yuzuru?
Adakah yang belum kuhapus? Aku telah menghapus semuanya. Bahkan, aku sudah menghapusmu dari deretan nama di ponselku. Sudah kuhapus.
Kau tahu? Kau mengganggu. Sangat.
Tahukah? Yang kumaksud mengganggu itu apa? Aku 'sakit'. Sakit saat melihatmu. Sakit karena kau tetap mempedulikanku meski kita tidak lagi bersama. Sakit saat mengetahui bahwa kau akhirnya bersama gadis berambut nila itu.
Kau tahu? Aku membenci hal itu—sebab aku jadi sulit melepaskan diri dari perangkap merah jambumu!
Ketahuilah bahwa aku merasakan nyeri saat melupakanmu, meninggalkanmu, mengacuhkanmu. Bahkan, menghapusmu. Tapi, kau menjadi hantu di pikiranku. Menjelma menjadi bayangan semu dan muncul tiba-tiba disaat tertentu. Maumu apa, Yuzuru?
.
.
Saat dini hari menjelang pagi, gelisah hatiku akan merindu dirimu. Aku melangkah keluar, menemukan foto-foto kita itu—kuubah, hingga dalam sekejap menguap dan menghilang. Menjadi abu mungkin?
Aku ingin menghapus kenangan itu.
Eh?
Kau meragukanku menghapus semua itu? Aku mampu.
.
.
Kau, terlalu meruntuhkan hati untuk sekedar kuingat. Kau, terlalu istimewa untuk dapat kukatakan 'bukan siapa-siapa'.
Kita, adalah kabaret liar yang bahkan tak sanggup lagi kita mainkan dan kenangkan. Pertunjukkan telah usai.
Aku akan mampu menghapusmu.
Sekali lagi kukatakan. Aku mampu menghapusmu.
Tak percaya?
.
.
.
-Fin-

Chap 3 : Miss you,Love you

Dia berlari,berlari sekencang-kencangnya,entah apa yang dikejarnya ia tak dalam hati ada yang mengatakan bahwa ia harus lari secepat mungkin agar tidak tertangkap.
Sambil berlari terengah-engah,ia menoleh ke belakang,tetapi apa yang didapat? Kegelapan yang terus menerus mengejarnya.
Apa? apa itu?apa ia akan tenggelam dalam kegelapan?
Sesosok makhluk berjubah hitam dan membawa arit besar datang dengan berjalan yang dikejar itu sudah tak tahan lagi untuk berlari dan akhirnya ia oleh sesosok makhluk hitam itu.
"Tidak!" teriak Yui. Yui menoleh ke kanan dan ke kiri,masih dalam posisi tidurnya, "Mi…mimpi?"
Sangat menakutkan,tak disangka Yui mendapatkan mimpi buruk itu.
"Yui,ada apa?" tanya ibunya yang setengah panik setelah mendengar jeritan Yui.
"Ibu…maaf,aku habis mimpi buruk." Yui mengatakannya dengan wajah ketakutan.
Ibunya tentu menghampirinya melihat anak semata wayangnya itu ketakutan, lalu ibunya memeluknya, "tenanglah,Yui,tenang,itu hanya mimpi."
Di dalam pelukannya,Yui merasakan kehangatan,rasanya nyaman,tak ada lagi rasa ketakutan dalam dirinya.
Ibu melepas pelukannya, "Lalu,apa yang kau mimpikan,Yui?"
"itu…aku tak seperti biasanya,sepertinya aku takut akan kematian…"
Ibunya hanya terdiam saja,lalu menjawab, "Tenanglah,Yui,selama kau masih disini,ibu akan tetap ada Hinata-kun yang sekarang jadi temanmu."
Hinata-senpai…. Sepertinya Yui mulai memikirkannya.
"Kau mau sarapan?ibu buatkan dulu ya."
Yui tak menjawab,tapi seakan ibunya mengerti jawaban Yui,diapun keluar dari kamar Yui.
"Senpai….."
Bayangan Yui akan mimpinya,sosok hitam itu adalah dewa kematian yang sedang kematiannya.
"Kenapa…padahal selama ini aku tak pernah memikirkan…kematianku…"
Semenjak Yui mengidap penyakit itu,Yui tak pernah memikirkan akan ia pikirkan hanya berharap ibunya bisa rela ia meninggal,tak akan ada yang menangisinya.
Tapi kenapa?
Ia merasa ingin hidup,bersama dengan seseorang.
"Hinata….senpai….." katanya lirih.
Kenapa?kenapa Yui selalu terbayang akan wajah Hinata?
Di SMA Gaeshi,Hinata mengikuti pelajaran seperti ada saatnya ia melamun,meski pandangannya sekilas memerhatikan mengkhayal,kadang ia tersenyum sendiri,ia membayangkan wajah Yui yang bahagia saat Hinata mengantarkannya ke sebuah tempat yang penuh dengan pohon maple.
Apa ia akan mampir ke rumah Yui hari ini?
Sepertinya tidak,karena hari ini Hinata harus mengikuti klub baseball sepulang sekolah.
Yui melirik jam dinding yang ada di itu menunjukkan jarum pendek di angka berpikir apa Hinata sudah pulang sekarang?apa ia tidak mampir ke rumah Yui?
Terlihat awan gelap menyelimuti gemuruh petir pun berharap Hinata tidak pulang dengan basah kuyup hari ini.
"Gawat,ketua,kita tidak bisa melanjutkan terlalu deras."seru salah seorang anggota klub basket.
"Sepertinya begitu,kalau begitu hari ini kita latihan sampai disini saja."perintah ketua pada semua anggotanya.
Semua orang yang semula ada di lapangan,kini memasuki ruang klub untuk mengeringkan terkecuali Hinata yang juga basah kuyup akibat hujan.
Hinata melepas seragam baseballnya dan segera memakai seragam sekolah.
"Lho,Hinata,kamu mau pulang dulu?di luar kan hujan."tanya salah seorang temannya.
"Iya,aku masih ada urusan setelah bawa payung kok."jawab Hinata sambil memakai sepatu.
"Oh,begitu,baiklah,hati-hati di jalan ya."
Begitu Hinata berpisah pada teman-temannya,Hinata mengambil payung yang ada di loker ia menuruni tangga dan keluar sekolah memakai hari ini dia ingin mengunjungi Yui,karena hari ini ia pulang lebih kenapa Hinata sangat merindukan suara dan wajah Yui saat ini.
Yui melihat tetesan air hujan yang membasahi pekarangan rumahnya dari balik sepi,tak berbicara dengan Hinata selama beberapa jam saja membuat Yui merindukannya.
Apa yang Yui pikirkan menjadi menekan bel rumah Hinata pun muncul dari balik pintu kamar Yui.
"Yui…"sapanya.
"Senpai,kukira hari ini kau tak datang."
"Yah…sebenarnya begitu,tapi aku tidak tahu apa yang mengelabuiku,sehingga aku ingin kemari."
"Karena senpai merindukanku?"sahut Yui dibarengi dengan nada sedikit bercanda.
"Yaah,mungkin."
Yui tak menyangka jawaban Hinata seperti itu membuat pipi Yui sedikit memerah.
"Maaf ya,hari ini aku tidak membawa apa-apa."
Yui menggeleng, "Tidak apa-apa kok,senpai kemari saja aku sudah cukup senang."
"Begitukah?"
"hmm…"angguknya.
"Kalau begitu,kita lakukan apa hari ini?"Hinata duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Yui.
Belum sempat Yui berkata,ponsel Hinata yang sesaat itu,sudah pasti itu hanya membaca sekilas,lalu itu ia menutup ponselnya.
"Siapa?"tanya Yui penasaran.
"Oh,hanya -tiba ia datang ke rumahku."
"Kakak senpai berkunjung ke rumah senpai?dia tinggal di mana?"
"Hakata, rencananya ia akan tinggal di Shinjuku pusat."
"Kenapa?"
"Karena minggu depan dia akan yang akan dinikahinya itu tinggal di Shinjuku,makanya kakak akan pindah sekaligus mencari kerja yang baru di sana."
"Me….nikah…."
Hinata sadar sudah bercerita panjang lebar tentang kakaknya. "Ah,lebih baik kita ganti topik saja ya."
"Kakak senpai…..pasti akan bahagia…"
"Hah?"Hinata sedikit kaget. "Y…yah,begitulah…"jawabnya sedikit ragu.
"….itu…."Yui bergumam pelan.
"Ada apa,Yui?"
"impian….."gumamnya lirih.
"Apa?"Hinata mendengarnya,tapi ia ingin meyakinkan pendengarannya sekali lagi.
"Menikah…itulah impian setiap wanita di dunia ini."
"…"Hinata sedikit heran.
"Yaah,menikah adalah impian terakhir tiap dengan pasangan,mengikat janji sehidup semati,selamanya mereka selalu bersama…itulah,harapan yang kuinginkan."
"Yui….."
Yui tersadar dan mengalihkan pembicaraan. "apa sih yang kubicarakan…lupakan saja apa yang kukatakan barusan,senpai."
"Tidak apa-apa."
"Hah?"kini Yui yang keheranan.
"Tidak apa-apa jika kelak kau menikah denganku."
Mata Yui terbelalak kaget "S…senpai,kau bicara apa sih…kau pasti bercanda…"
"Aku serius…"Hinata menggenggam tangan Yui, "Aku ingin menjagamu,melindungimu,aku ingin bersamamu, adalah hal yang terbesit setelah aku menemuimu,setelah aku menghabiskan waktu bersamamu."
"K…kau bicara apa,senpai…mana mungkin kau bisa menikahiku,umurku pendek,bahkan aku tak bisa berjalan,bergerak maupun mempunyai anak."
"aku akan tetap menyukaimu apapun yang terjadi,Yui."
"Tapi,penyakitku…."
"Aku tak peduli!"kata Hinata sambil mengeraskan suaranya.
"Aku tak peduli semua tak peduli pada penyakitmu,aku tak peduli kau tak bisa berjalan,bergerak atau bahkan tak mempunyai akan tetap menikahimu."
"…"Yui menatap mata Hinata.
"Aku ingin berada di sisimu,selamanya,Yui."
Air matanya Yui menetes,membasahi pipinya. Ia menangis terisak-isak mendengar pernyataan Hinata disangka dia begitu disangka,harapannya akan muncul.
Hinata memegangi pipi Yui dan menghapus air matanya.
"Tak kusangka….tak kusangka ada seseorang yang berkata seperti itu…senpai…kau bilang akan menikahiku….bahkan kau pun belum lulus dan belum cukup umur." Yui mulai tertawa pelan.
"Yaaah,mungkin begitu,tapi setelah aku lulus,aku akan menikahimu."
"Bagaimana jika aku meninggal duluan?"
"Makanya,kau harus harus berjuang melawan penyakitmu demi aku."
Yui tersenyum,ia bahagia bisa dicintai oleh orang baik seperti senang bisa mencintai seseorang selain keluarganya sendiri.
Setelah menghapus air mata Yui,tiba-tiba Hinata mencium dahi Yui.
Sepertinya hari-hari Yui yang diisi dengan keputus asaan dan pengandaian,akhirnya bahagia walau ia terkena penyakit ia akan berjuang melawan penyakitnya dan menunggu Hinata walau sampai seratus tahun.
-To Be Continued-

Kamis, 29 Maret 2012

Chap 2 : I,you and our promise

Hinata memencet bel rumah Yui,sekali,dua kali tidak ada bel yang ketiga,ada seseorang yang membukakan pintu.
"Oh,Hinata-kun ya,masuklah."dengan ramah,ibunya Yui membukakan pintu untuk Hinata.
"Permisi…"kata Hinata yang agak sungkan.
Ibu Yui mengantarkan Hinata ke kamar Yui,di sana Yui sedang menonton televise sendirian.
"Yui."ibunya memanggil setelah membukakan pintu "Hinata datang."
"Hinata-senpai!ternyata kau datang kemari lagi."
Hinata tersenyum meninggalkan Hinata dan Yui di Hinata duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Yui.
"Heeh,aku tidak mengira,Hinata-senpai mau kemari lagi…"
"Iya…"
Suasananya agak sedikit Hinata memecah keheningan yang ada di kamar itu.
"Hei,kau suka acara music ya?"Hinata sadar yang dilihat Yui dari tadi adalah acara musik.
"Iya,aku suka,aku suka menyanyi dan tentunya aku juga suka main gitar."
"Kalau begitu,bisa kau mainkan gitar?"
"Eeh?"Yui berekspresi serius.
Hinata berpikir,kenapa Yui diam saja?
Yui membalas dengan tersenyum, "Sayangnya aku tidak punya gitar."
"ooh…"
"Hei,senpai,aku ingin bertanya,impian senpai yang belum tercapai apa?"
Hinata berpikir, "Impian…hmmm,mungkin menangkap bola home run...mungkin..."
"Heee,kalau Hinata-senpai pasti mudahkan menangkap bola."
"Iya,menurutku juga mudah,tapi setelah dipraktekan tidak semudah itu…belum lagi saat ini lenganku cedera"
"Eh?senpai cedera?"Yui membelalakkan matanya.
"Yaah,sudah sekitar sebulan,sekarang sudah tidak apa-apa kok,hanya bisa menangkap pukulan bola biasa."
"Hmm…."Yui mengangguk "Bersama Hinata-senpai sangat menyenangkan ya… aku…sebelumnya belum punya teman yang membesuk,bahkan menengok pun tidak."
"Kenapa?apa temanmu memusuhimu?"
"Bukan,lebih dari itu,aku memang tidak punya teman."
Wajah Yui terlihat sedih kembali,sepertinya Hinata merasa bersalah membahas masalah teman.
"Ehmmm,Yui,kapan-kapan kita jalan-jalan keluar besok hari libur nasional,kita menghabiskan waktu."
"Eeh?"
"Tidak apa-apa kan?"
Wajah Yui jadi sumringah kembali, "Iya!"
Hinata pamit pulang pada Yui,tapi ada yang sedikit mengganjal di penyakit yang diderita Yui?
Karena penasaran,ia bertanya pada ibunya yang sedang duduk di sofa.
"Permisi,bibi…"
Ibu Yui menoleh. "Eh,Hinata-kun,mau pulang ya?"
"Iya,tapi sebelum pulang aku ingin bertanya terkena penyakit apa?"
"Hinata-kun benar-benar ingin tahu?"
Hinata mengangguk.
Ibu Yui menceritakan semuanya,tanpa ada yang hanya kaget dan tercengang,memandang ibu Yui bercerita.
"Jadi…"kata Hinata,suaranya agak ragu, "Yui…terkena penyakit yang mengganggu syaraf motoriknya,otaknya tak dapat merespon,sehingga kaki dan tangannya tak bisa digerakkan atau lumpuh?"
"Iya."ibu Yui sedikit sedih.
"Apa tidak bisa disembuhkan?"
Ibu Yui menggeleng , "Tidak bisa,penyakit ini jarang sekali operasi,memerlukan biaya yang tidak sedikit."
"Kuceritakan ini pada Yui,dia bilang dia tidak masalah selamanya berada di tempat tidur,asalkan dia tak dioperasi."Lanjutnya , "Yui…dia juga bilang,dia sudah siap jika maut menjemputnya."
Ibu Yui mulai menitikkan air kondisi Yui yang seperti itu,membuat Hinata sedikit sebabnya Yui tidak sanggup mengambil bola baseball yang ada di ini Yui juga selalu duduk di kursi roda dan terbaring di tempat tidurnya.
"Maaf,bibi,aku malah…mengingatkanmu pada sesuatu yang menyakitkan."
"Tidak…"dia menggeleng menanggapai perkataan Hinata. "Justru aku berterima kasih padamu,,Yui bisa tersenyum ceria,ada teman seumurannya yang bisa diajak bicara."
"Hinata-kun"Ibu Yui memegang tangan Hinata,tangannya sangat dingin. "Jagalah Yui,buat ia bahagia."
"Aku akan menjaga Yui,bibi tenang saja."Hinata baru saja menghibur hati ibu Yui yang dingin tanpa harapan.
Ibu Yui merasa senang sekali,dan merasa sangat aman bila Yui bersama dengan Hinata.
-Besoknya-
"Yui,selamat pagi."sapa Hinata pada Yui.
Tak seperti hari biasanya,kali ini Hinata datang lebih pagi.
"Pagi, kuduga,senpai kemari lagi."Yui berbaring di tempat tidur ditemani ibunya.
"Tentu saja,kan kemarin aku sudah janji akan mengajakmu jalan-jalan."
Yui hanya tersenyum saja,tentunya ia ingat akan janji yang Hinata buat kemarin. "Baiklah,senpai keluar aku menyusul."
Hinata pun menuruti perkataan Yui dan ia menunggu di luar.
Di dalam kamar,terdengar suara ibu Yui dan Yui sedang bercakap-cakap
"Ibu sepertinya senang ya?"tebak Yui asal-asalan.
Ibunya hanya tersenyum "Begitukah?ibu hanya senang akhirnya kau bisa keluar rumah tanpa bantuan ibu lihat Hinata-kun orang yang baik sekali." sambil mengancingkan baju pada Yui.
"Menurut ibu begitu?"
Ibunya memegangi pundaknya "Sayang,selagi sempat,bersenang-senanglah senang jika kau bahagia."
Tangan ibunya hangat,senyumannya merekah,membuat hati Yui senang melihat ibunya itu.
"Terima kasih bu…"
Ibu mengantarkan Yui yang duduk di kursi roda ke ruang tamu,dimana Hinata menunggu.
"Senpai,maaf,menunggu."kata Yui.
Hinata melihat penampilan Yui,dia cocok sekali dengan baju warna pink dan rok selututnya.
Hal itu membuat Hinata merasa Yui sangat cantik,walaupun bajunya sederhana.
"Ayo,senpai." Ajakan Yui seakan membangunkan Hinata dari lamunannya.
"Ah,iya…"
Hinata mengambil alih kursi roda dan Yui pamit pada ibunya sambil membungkukkan badan.
"Hei,senpai,kita kemana?"tanya Yui yang penasaran.
"Hmmm,kemana ya…menurutmu?"Hinata mencoba bermain tebak-tebakan dengan Yui.
"menurutku….? Yaaah,kita jalan-jalan di sekitar sini…"
"Salah!" kata Hinata "Kita akan ke tempat yang bagus,dan jauh dari sini."
"Hah?"Yui sedikit terheran.
"Kau akan tahu nanti."
Jalan raya sangat sepi,Hinata puny aide untuk mendorong kursi roda Yui lebih cepat lagi.
"Tu….tunggu,Hinata-senpai…"Nada Yui sedikit ketakutan.
"Tenang saja,aku akan hati-hati kau lakukan tinggal menikmati pemandangan dengan angin sepoi-sepoi saja."
Yui makin heran,tapi ia memutuskan untuk diam kelamaan Yui merasa senang ketika kursi rodanya di dorong dengan kecepatan penuh.
"Senpai,ini menyenangkan!"tawanya menghiasi wajahnya.
"Hehe,baru sadar,nanti akan kutunjukkan yang lebih hebat lagi."
Sepuluh menit kemudian,Hinata dan Yui tiba di sebuah tebing,di sana terdapat pohon Maple yang berwarna kuning kecoklatan,menandankan ini masuk musim gugur.
Yui mengagumi pohon maple itu,tapi tak hanya itu menunjuk ke arah di sana,hamparan bunga yang sangat indah menghiasi lapangan luas.
"Indah bukan?"Kata Hinata yang juga ikut mengagumi keindahan bunga itu.
"Ya,sangat indah,tak kusangkan akan mendapatkan pemandangan ini di musim gugur."
Senyuman Yui kini merekan,sangat cantik,di tambah matahari pagi yang menyinari tempat membangkitkan hati Hinata yang melihat kecantikannya.
Entah sejak kapan Hinata memandangi wajah Yui,dan entah sejak kapan dia mempunyai rasa pada Yui.
"Senpai?"
Hinata mengerjapkan matanya, "Oh,maaf,kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak,hanya saja aku mau bilang,hebat sekali senpai menemukan tempat sebagus ini."
"Aaah,itu….aku hanya tidak sengaja menemukan tempat ini ketika pulang kebun bunga itu ditanami bunga yang tumbuh setiap musimnya."
"Oooh,jadi tiap musim bunganya berganti ya?aku jadi ingin melihatnya."Mata Yui kini seakan menerawangi bunga-bunga itu,dia seakan melihat,tetapi tidak benar-benar melihat.
"Taka pa,aku akan mengantarkanmu setiap musim."
"….."Yui termenung, "Itu kalau aku masih ada di dunia ini…"
Satu hal yang Hinata lupakan,bahwa Yui kini memiliki penyakit yang tidak diketahui. Tapi Hinata tak mau mengecewakan Yui saat ini.
"Tidak apa-apa,jika kau tidak ada sekalipun,aku akan mengantarkan bunga ke makammu,setiap musim kubawakan binga yang berbeda."
Yui kembali bangkit dari keterpurukannya,dan menatap dia menunjukkan seulas senyumnya. "Senpai…kau medoakanku meninggal ya?"
"Bu…bukan begitu…maksudku…anu…"Hinata kehabisan kata-kata,dan tergagap.
"Tidak apa-apa senpai,seperti itu saja aku sudah senang kok."
Yui tertawa lagi,kali ini tawanya lebih terlihat juga ikut tertawa melihatnya.
-To be continued-

FanFic Angel Beats! Chap 1 : I meet you

Genre : Romance,Drama
Alert : OOC,ngarang,ngawur.
Pairing : Hinata Hideki X Yui
Disclaimer : Angel Beats asli karya Maeda Jun,bukan karya saya.
"Hinata!tangkap!"
cowok yang dipanggil Hinata itu melihat bola yang melambung di atas ia dapatkan sebelum akhirnya ia terjatuh.
"Maaf,maaf,aku terjatuh…"katanya.
"Yaaah,padahal tinggal sedikit lagi…"temannya mengeluh,membuat Hinata sedikit menyesal.
"Maafkan aku…"
"Sudahlah,ayo kita lanjutkan."
Akhirnya mereka melanjutkan ,kedua tim seri,tak ada yang menang dan kalah.
"Maafkan aku,aku tak bisa menangkap bolanya."Hinata menunduk dan memohon maaf pada ketua klub Baseball.
"sudahlah,toh,hasilnya seri,dan ini juga bukan kejuaraan,hanya main-main saja."Ketua membalasnya dengan senyuman,sama sekali tidak terlihat marah ataupun geram.
"Tapi…meski begitu…."
"Hinata…."panggil temannya yang sedari tadi mendengar percakapan antara Hinata dan ketua klub "Ketua bilang tidak apa-apa,kesalahan bisa terjadi pada manusia kan?"
Hinata mengangguk,dia mengambil air minumnya,lalu mengganti bajunnya dengan seragam sekolah.
"Kenapa sih aku tidak bisa menangkapnya…."gumam Hinata agak kesal pada dirinya.
Hinata berjalan melewati gerbang sekolah,tak jauh di sana,ada lapangan yang yang sekarang digunakan anak-anak SD untuk bermain merenung disitu sejenak,sambil memandangi permainan anak-anak itu.
Permainan anak-anak itu ada yang salah,pikir menghampiri anak-anak tersebut.
"Selamat siang!"sapa Hinata terlebih dahulu.
Anak-anak itu kaget ketika di sapa oleh Hinata.
"Maaf,aku datang tiba-tiba,tapi bisa kalian hentikan sejenak permainannya?"
Mereka saling memandang satu sama lain,tapi akhirnya mereka menurut.
"Yak,begini…."Hinata menjelaskan satu-satu tentang kesalahan anak-anak itu.
Awalnya semua anak tidak percaya pada Hinata,tapi begitu mereka contohkan,apa yang dikatakan Hinata teori Hinata tentang baseball sangat menakjubkan.
Hinata memang sangat berbakat akan baseball,ia pernah menjuarai pertandingan baseball tingkat SMP.
Hanya saja akhir-akhir ini lengan Hinata sedikit memburuk,bahkan seperti pertandingan tadi,ia tak dapat menangkap bola dengan baik.
Hinata tak henti-hentinya tertawa ceria saat anak-anak itu bilang bahwa baseball sangat menyenangkan daripada sebelumnya,karena Hinata telah mengajarkan banyak teknik pada anak-anak itu.
Hari sudah semakin larut,anak-anak itu berhenti juga dengan Hinata yang juga ingin pulang anak-anak itu berterima kasih pada Hinata.
Hinata berjalan keluar lapangan luas itu,dan dia bertemu seorang gadis berambut panjang yang duduk di kursi dari tadi dia mengamati Hinata saat bermain.
"Halo…"sapa gadis itu.
Hinata mengangguk ragu, "ha…halo…"
"kau….suka baseball ya?"tanya cewek berambut panjang itu.
"ya…begitulah…"
Hinata melihat cewek itu dengan seksama,sepertinya dia tipe cewek pendiam yang sering sakit-sakitan.
"Hei…"panggil si cewek itu. "kau akan bermain di sini lagi?di lapangan ini?"
Hinata menggarukan kepalanya. "Tidak,aku hanya kebetulan lewat kok."
"sayang sekali,aku ingin sekali melihatmu bermain baseball seperti tadi." Dia melihat lapangan dan membayangkan Hinata ada disana.
Apa dia penggemar yang diam-diam mengagumi Hinata?sepertinya iya,tapi Hinata tidak tahu kalau ia seterkenal itu.
"Yui!"panggil seorang wanita paruh baya itu pada si cewek.
"Ibu,sudah ketemu cincinnya?"
"sudah,maaf ya membuatmu menunggu,ayo kita pulang."ibu itu berjalan ke balik kursi roda Yui dan berposisi seperti ingin mendorong,tapi Yui menghentikan ibunya sebelum ibunya ingin mendorong, "tunggu sebentar,bu."
"hei,kalau tidak keberatan,aku ingin berteman denganmu."katanya pada Hinata.
"ah,ummm,ya…tapi,apa kau tak keberatan berteman dengan orang yang tidak kau kenal?"
Yui menggeleng, "tidak…"
Aneh,benar-benar aneh,menyuruh orang tidak dikenal untuk berteman...
"Rumahku tepat di sebelah lapangan,yang berwarna putih itu,kalau kau mau jadi temanku,mampirlah ke rumahku."seraya tersenyum dan berpamitan,lalu meninggalkan Hinata.
"Apa sih,cewek itu,tiba-tiba ngajak ke rumahnya,gimana kalau yang diajak itu orang jahat?apa dia tidak berpikir sebelumnya?" gumam Hinata agak heran.
Pikiran Hinata ruwet ketika membayangkan kata-kata Yui segera pulang sebelum dia benar-benar sangat pusing.
Esoknya,sepulang masih tetap kepikiran dengan cewek yang ada di lapangan tanpa sadar dia terus berjalan ke arah lapangan yang kemarin.
"U…untuk apa aku kesini lagi?"tanyanya sendiri.
"Ah!itu kakak kemarin!"kata seorang anak kecil yang kemarin bermain bersama Hinata.
"Ah,halo…"sapanya.
"Kak,ayo bermain baseball lagi!"
Padahal tujuan Hinata bukan untuk bermain baseball,tapi dia tak bisa ia bermain dengan anak-anak itu dan mengajarkannya lagi.
Tanpa sengaja,seorang anak memukul bola dengan sangat keras,hingga memecahkan kaca sebelah rumah.
"Ah,gawat."anak yang memukul bola itu panik.
"aku ambilkan bolanya,kalian tunggu saja disini."Hinata bergegas menuju rumah itu untuk mengambil bola.
Tunggu,rumah itu berwarna putih,tepat di sebelah lapangan,mungkinkah rumah cewek itu?
"Permisi."Hinata menekan bel,agak ragu sejenak ketika berpikir kalau itu rumah cewek yang kemarin.
"Ya?"seorang wanita membukakan pintu. "Ah,kau yang kemarin bersama Yui kan?"
Hinata kaget melihat wanita itu,itu ibu Yui "ah,i…iya…tapi…aku datang kemari untuk mengambil bola yang terlempar di rumah anda."
"Oh,iya,kau tidak keberatan kan kalau kau ambil sendiri?aku sedang memasak."
"baiklah."Hinata mengangguk.
Hinata melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. "Maaf,kira-kira bolanya jatuh dimana?"
"Di situ,masuklahke dalam kamar yang ada di ujung lorong itu,disitu ada anakku."
"terima kasih."
Hinata berjalan menuju lorong,sebelum masuk,ia mengetuk pintu terlebih jika anaknya kaget kalau bertemu dengannya.
Tok…tok…tok…
"Ibu?masuk saja bu…"
Ibu?batin Hinata,lalu membuka pintunya, "Maaf,aku bukan ibumu."
"Eh?kau kan…"
Ya,ternyata itu cewek yang kemarin ingin berteman dengan Yui terbaring di tempat tidurnya.
"tak kusangka kau akan kemari…"Yui begitu gembira ketika Hinata datang.
"Bu…bukan begitu,aku hanya ingin mengambil bola yang terlempar kesini."
"maksudmu bola yang memecahkan pintu kacaku itu?"Yui menunjuk dnegan pandangan matanya.
Hinata memungut bola yang ada di samping pintu kaca tersebut, "Maaf,sudah memecahkan kacamu."
"Tidak apa-apa kok."sembari tersenyum ramah "aku baru sadar,seragammu itu dari SMA Gaeshi di distrik 3 itu kan?kelas berapa?"
"I…iya,aku kelas 2."
"berarti kau seniorku,aku juga sekolah disana,aku kelas 1."
"Masa?"Hinata tercengang,dia tak sadar bahwa Yui adalah adik kelasnya.
"Ya,maksudku,andaikan aku sekarang tidak terbaring disini,aku menjadi siswi SMA Gaeshi."
Terbaring disini?
"Hei,siapa namamu?"tanya Yui penasaran.
"Hinata,Hideki Hinata."
"Hmmm,Hinata-senpai ya…panggil aku Yui."
Hinata sedikit heran , "Anu…tidak usah pakai senpai."
"tidak apa-apa,kesannya seperti kau kakak kelasku,dan aku tidak keberatan kan?"
"...baiklah,terserahmu saja…"
Benar-benar cewek aneh.
Setelah perbincangan lama itu,akhirnya ia keluar dari rumah itu Hinata minta maaf pada anak-anak itu karena lama mengambil bola.
"kakak pasti lama karena lihat cewek yang ada di rumah itu,benar kan?"kata salah seorang anak.
"Ti…tidak kok…"
"Jangan bohong,terlihat dari raut wajah kakak."
"argh!sudahlah!"
"o,iya…"sahut anak bertopi biru yang ada di belakang Hinata, "kalau yang kakak maksud cewek dari rumah itu,dia sering melihat kami bermain baseball,tapi dia aneh."
Hinata mengernyitkan matanya "Aneh?"
"Iya,"angguknya "waktu bolanya terlempar di dekatnya,kami menyuruh dia mengambilkan bolanya,tapi dia diam saja,kami pikir dia tidak dengar,tapi setelah kami teriak, dia mengatakan bahwa ia tak bisa mengambil bola sekali,padahal bolanya tepat di bawah kursi rodanya."
Memikirkan hal itu,Hinata juga sedikit heran,Hinata mengira bahwa cewek itu hanya sakit-sakitan biasa,seperti demam dan semacamnya,tapi sepertinya cewek itu memang benar-benar punya penyakit lagi,walaupun ia terlihat ramah dan sering tersenyum,terlihat dari matanya bahwa ia kesepian.
Benar,ia butuh teman,itu sebabnya dia meminta Hinata untuk menjadi temannya.
Akhirnya Hinata tahu sebab Yui berkata begitu pada Hinata yang baru ditemuinya.
-To be continued-

 

Feel My soul - Yui Yoshioka

[intro]
Dm Bb Dm Bb
[verse]
Dm      Bb          F
Nakitsukareteta n’ da
Dm      Bb          F
toikakeru basho mo naku
G           Dm           Bb    C
Mayoinagara tsumazuitemo tachidomarenai

[verse]
Dm      Bb        F
kimi ga kureta egao
Dm     Bb        F
otoshita namida wa
G               Dm        Bb   C
boku no mune no fukai kizu ni furete kieta

[chorus]
F                  C     Dm       Bb
I feel my soul Take me your way sou tatta hitotsu wo
F          C     Dm        Bb
kitto daremo ga zutto sagashiteru no
F
sore wa guuzen dewa nakute
C                            Dm
itsuwari no ai nanka ja nakute You’re right, all right
Bb                                 Dm     Bb
You’re right, all right Scare little boy
[verse]
Dm Bb F (2x)
nando mo kurikaesu
douka ikanaide
G Dm Bb C
sasayaku you na kimi no koe wa itoshikute

[chorus]
F C Dm Bb (3x)
I feel my soul Take me your way mou furimukanai
kitto kono te de ima tashikametai yo
itsumo tanjun na hodo kurushinde
ikite yuku imi wo shiritai kara
You’re right, all right
You’re right, all right Scare little boy
Dm

[bridge]
G             Dm                 Bb
sotto tsubuyaita kimi no kotoba you say it
G              Dm        Bb              C
ugokidase mienai kedo michi wa hirakareteru
Dm Bb C

[chorus]
F C Dm Bb (4x)
I feel my soul Take me your way sou mogakinagara mo
kitto kono mama zutto aruite yukeru
sore wa guuzen demo naku tte
arifureta yume nanka ja naku tte
You’re right, all right You’re right, all right
itsumo tanjun na hodo kurushinde
yorokobi no imi wo shiritai kara
You’re right, all right
You’re right, all right Scare little boy
C     Bb (3x)
ouhhh lalala..la..ta
C Bb   F

I Remember You

Intro: Cadd9 Dadd9 D (x2)
Cadd9  Dadd9   G        Em7
Kaze wa mou tsumetai keredo
Am7                 D7           G
Natsukashii sora no nioi ga shita nda
Cadd9 Dadd9 G        Em7
Hoomu kara umi ga mieru
Am7        D7             G  G7
Kono basho de kimi wo sagashiteru
Em7        Dadd9 Cadd9    G
Kisetsuhazure no saafuboodo ni
Em7           Dadd9     G  G7
Ano natsu wa kitto ikiteru
Em7       Dadd9 Cadd9   G          A7sus4
Taiyou wa zutto oboete ita hazu sa
D7
Nee, kikoeteru
N.C.         Cadd9  G      D         A7sus4
“Namida wo misenai” tte, kimi wa sou itte
Cadd9       G        D     Em7
Bokutachi wa futari te wo futta
Cadd9 G    D           A7sus4
Sayonara wa iwanai, dakara te wo futta
Cadd9      Dadd9           Cadd9  Dadd9 D Dadd9 D
Yuuyake ni kieta I Remember You
Cadd9  Dadd9   G        Em7
Sabita gitaa kakaeru tabi ni
Am7             D7           G
Ano uta ga mune no oku wo tsukamu kedo
Cadd9  Dadd9  G      Em7
Ima mo mada saenai hibi
Am7        D7            G   G7
Kono basho de boku wo sugoshiteru
Em7       Dadd9  Cadd9         G
Dakedo omou nda “Dare ka no tame ni
Em7        Dadd9     G  G7
Kitto bokura wa ikiteru”
Em7       Dadd9 Cadd9   G          A7sus4
Taiyou ga kitto oshiete kureta nda
D7
Nee, kikoeteru
N.C.         Cadd9  G      D         A7sus4
“Namida wo misenai” tte, kimi wa sou itte
Cadd9       G        D     Em7
Bokutachi wa futari te wo futta
Cadd9 G    D           A7sus4
Sayonara wa iwanai, dakara te wo futta
Cadd9      Dadd9           G  G7
Yuuyake ni kieta I Remember You
F                Cadd9       G     G7
Are kara no boku wa aikawarazu dakedo
F             Cadd9           D       D7   N.C.
Honno sukoshi jishin ga aru nda yeah yeah yeah
N.C.        Cadd9 G   D        A7sus4
Namida wo koraeteru yakusoku dakara
Cadd9       G        D     Em7
Dare yori mo tsuyoku naranakucha
Cadd9 G    D           A7sus4
Sayonara wa iwanai, datte me wo tojite
Cadd9   Dadd9           Cadd9 G
Sugu ni aeru I Remember You
Cadd9
La la la la
G
Ooh ooh
Cadd9 Cadd9